Postingan

Fallacy Of Hedging

Fallacy Of Hedging adalah salah satu kesalahan seseorang dalam berpikir. Fallacy Of Hedging ialah menghindari kesalahan dari pandangan yang telah dibuat. Untuk lebih memahaminya lagi mari kita ambil contoh percakapan sederhana dibawah ini: 👧: “YANG.!!!! AKU MELIHAT KAMU ITU TERMASUK ORANG YANG SELALU TIDAK PERCAYA SAMA AKU. KALO ADA APA-APA SELALU NANYA KE ORANG LAIN. PADAHAL KAMU BISA NANYA SAMA AKU. MUNGKIN, DIMATA KAMU AKU SAMA SEKALI NGGAK BERHARGA.! AKU NGGAK NYANGKA YANG.!!! TERNYATA SEBESAR ITU RASA KETIDAK-PERCAYAANMU SAMA AKU.!!! 👦: “Yang..... Kalo aku nanya sama orang lain bukan berarti aku nggak percaya sama kamu Yang. Kemarin Sore aku menanyakan model sepatu futsal yang pas buat aku. Lagian Seminggu yang lalu kan aku minta pendapat kamu soal permasalahan yang menimpa aku. Dan kalo kamu masih ingat 3 hari yang lalu aku mengajak kamu diskusi tentang buku yang telah aku baca. Apa iya setelah megetahui itu semua kamu punya kesimpulan begitu.? Apa benar kalo aku nggak percay...

Berani tidak disukai

Setelah beberapa hari belakangan ini aku membaca buku “ Berani Tidak disukai” di dalam buku itu ada salah satu part yang sangat menohok buatku dan menjadi reminder. Kalimatnya seperti ini: “Dari sepuluh orang, akan ada satu yang akan mengkritikmu, tak peduli apa yang kau lakukan. Orang ini akan membencimu, dan kau juga tidak akan belajar menyukainya. Lalu, akan ada dua orang lain yang menerima segala hal tentang dirimu dan kau juga akan menerima segala hal tentang mereka, dan menjadi teman dekat mereka. Tujuh orang lainnya adalah orang-orang yang bukan terdiri dari kedua tipe tersebut.” Dari kalimat tersebut bisa kita ambil kesimpulannya. Sekarang apakah kita berfokus pada satu orang yang membenci kita? Apakah kita lebih memperhatikan dua orang yang mengasihi kita? Atau apakah kita berfokus pada orang banyak yang tujuh tersebut? Dan sebagian dari kita hanya akan melihat satu orang yang membenci kita dan memikirkan tentang hal itu.

Curahan Hati

Gambar
  Jangan kau tangisi semua ini. Biarlah semuanya berjalan dengan sendirinya. Sang Pencipta punya cara sendiri buat kamu bahagia. Jangan memikirkan apa yang mereka katakan padamu. Pada dasarnya Sang Pencipta menciptakan beberapa orang untuk tidak suka padamu.  Tujuannya agar kau selalu bersyukur dengan apa yg telah kau terima. Jadi Sebaik apapun kau berbuat baik sama semua orang di bumi ini belum tentu seluruh dunia akan baik sama kamu.  Lukisan terbaik yg pernah tercipta di atas muka bumi ini pun tetap ada pengkritiknya. Intinya tetaplah tersenyum dan jadilah diri sendiri. 

Jauh.

Tidurlah kau yang jauh disana. Biarlah raga lemah tak terjaga.  Menemui mimpi dalam singgasana. Tidurlah kau yang jauh disana. Walaupun raga tidak saling bersua.  Mata tak saling tatap.  Percakapan malam ini sangatlah melekat dalam pikiran dan jasad.  Tidurlah kau yang jauh disana. Aku tahu kau lelah. Istirahatkan tubuh dan hatimu. Dimalam sepi dan sendu.

Menyalahkan Orang Lain

Dari buku yang saya baca dalam beberapa minggu ini yang berjudul “ How To Stop Feeling Like Sh*t” dan di dalam buku tersebut ada pembahasan tentang “Menyalahkan orang lain”. Sebagian dari kita emang kerap melakukan hal itu, menyalahkan orang lain seperti memakai selimut hangat dan nyaman, kita bisa menyelimuti diri kita ketika keadaan menjadi sulit, beberapa orang beranggapan jika mereka menyalahkan orang lain mereka akan mencuat melesat lebih cepat. Itu adalah hal yang salah. Di dalam buku ini paparkan, bahwa menyalahkan orang lain menjadi pilihan yang paling aman dan paling  nyaman, tetapi itu tidak akan pernah membantu anda merasa bangga terhadap diri kita sendiri, juga tidak akan membantu kita mempertahankan kebahagiaan yang kita dapatkan sesaat. Tatkala kita menyalahkan orang lain, itu menghalangi kita untuk mendapatkan empati dan menjalin hubungan dengan mereka. Membuat tuduhan demi tuduhan atau menimpahkan kesalahan, sebenarnya menghalangi kita mengakui perasaan orang lain....

Rindu

Malam sunyi bersamaan dengan turunnya ribuan tetes hujan. Menggenangi jalan-jalan tak bertuan. Ribuan rintiknya kian berani, Melumuri rindu-rinduku yang selama ini makin liar, dan menguap dimangsa sepi. Nyanyian hujan malam ini begitu merdu, Iramanya mengiringi degub jantungku. Melantunkan irama terindah di alam semesta. Nada, tempo, bahkan alunannya mendamaikan, Tetapi juga memabukan. Hujan ini lama. dan enggan berhenti. Mungkin sampai pagi. Bersamaan itu pula rindu berhasil memporak-porandakan kalbu. Aku tanpa perisai harus bertekuk luntut dengan keperkasaannya. Menguasai relung hati dan akal budi yang tak berdaya.

Sahabat Lama (Kematian).

Mati.. mati.. dan.. mati. Satu kata yang selalu menghantui. Disetiap kesunyian malamku. Ketika keramaian telah menghilang. Kehampaan mulai menyerang memasung jiwa. Pikiran mulai terhanyut kepada sebuah kematian. Pemutus nikmat keduniawian yang fana penuh kepalsuan. Terbesit tentang dosa yang telah digawaikan dalam kehidupan. Tentang dosa yang masih menjadi sahabat. Mengikat erat di sekujur jasad. Penyesalan selalu datang disetiap rembulan bertemankan malam. Dan menghilang ketika matahari siang menghangatkan. Kematian akan selalu mengikuti kemana hayat akan pergi. Tak dapat dihindarkan dan tak dapat dielakkan. Suatu saat jiwa akan bertemu dengan sahabat lama. Yaitu kematian, dia akan menjemput dengan kepastian tanpa keraguan. (09 Desember 2021)