KENAPA WHY SELALU ALWAYS ? Karena because tidak pernah never. Sebenarnya actually menginginkan want, namun but akan will jika if sering often. Sayangnya sadly hampir almost dan and jarang seldom. Apakah what perlu need? Ataukah or harus must? Mungkinkah possibly bisa can? Berapakah how many sebelum before? Siapakah who setelah after? Untung saja fortunately tidak akan wont. Biarlah let menanyakan ask. Janganlah dont untuk for supaya in order to menjadi become. Bagaimanapun however tetap stay saat when mengubah change. Tulislah write seakan as if menjanjikan promise. Gambarlah draw tanpa without meskipun altough membohongi lie. Ingatlah remember dengan with, lupakan forget bersama together. Lihatlah see membawakan bring sementara meanwhile membangun build. Dimana where memiliki have, kejarlah chase sampai until. Setiap every mengatakan say dari from, tidak ada nothing membukakan open. Kadang-kadang sometimes melewati pass, tentu saja of course sangat very padaha...
Jangan remehkan satu kebaikan sedikit pun walau itu sepele. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, ﻳَﺎ ﻧِﺴَﺎﺀَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕِ ﻻَ ﺗَﺤْﻘِﺮَﻥَّ ﺟَﺎﺭَﺓٌ ﻟِﺠَﺎﺭَﺗِﻬَﺎ ، ﻭَﻟَﻮْ ﻓِﺮْﺳِﻦَ ﺷَﺎﺓٍ “Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah). . Walau itu sesuatu yang sedikit jangan dianggap remeh. Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan. . Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. . Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah SWT pun menyukai orang yang demikian. . Catatan...
Terkadang kita merasa telah banyak berbuat baik untuk islam dan kaum muslimin, kita merasa telah melakukan sesuatu untuk membela Allah, Rasul-Nya dan Al Qur’an, lalu hati kita menganggap remeh orang yang tak seperti dirinya. Atau bahkan menganggap mereka lemah dan tak berguna. Tak sadar bahwa perasaan seperti ini bisa membatalkan amalnya. Ibnul Mubaarok rahimahullah berkata : وَلاَ أَعْلَمُ فِي الْمُصَلِّيْنَ شَيْئًا شَرٌّ مِنَ الْعُجْبِ “Aku tidak mengetahui pada orang-orang yang sholat perkara yang lebih buruk daripada ujub” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sy’abul Iman no 8260). Syaikh Ibnu Al Utsaimin mengatakan bahwa ujub itu dapat membatalkan amal. Beliau mengatakan, “kelompok yang kedua, yaitu orang-orang yang tidak memiliki tahqiq (kesungguhan) dalam pokok iman kepada takdir. Mereka melakukan ibadah sekadar yang mereka lakukan. Namun mereka kita sungguh-sungguh dalam ber-isti’anah kepada Allah dan tidak bersabar dalam menjalankan hukum-hukum Allah yang kauni maupun s...
Komentar
Posting Komentar