Tak ada kata-kata yg indah dari rasa syukur kepada DIA. ketika mata masih terbuka. Jiwa masih berselimut raga. Menikmati indahnya cakrawala yg telah disaji oleh Sang Pencipta, kepada kita makhluk yg lemah.
Jangan remehkan satu kebaikan sedikit pun walau itu sepele. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, ﻳَﺎ ﻧِﺴَﺎﺀَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕِ ﻻَ ﺗَﺤْﻘِﺮَﻥَّ ﺟَﺎﺭَﺓٌ ﻟِﺠَﺎﺭَﺗِﻬَﺎ ، ﻭَﻟَﻮْ ﻓِﺮْﺳِﻦَ ﺷَﺎﺓٍ “Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah). . Walau itu sesuatu yang sedikit jangan dianggap remeh. Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan. . Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. . Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah SWT pun menyukai orang yang demikian. . Catatan...
Terkadang kita merasa telah banyak berbuat baik untuk islam dan kaum muslimin, kita merasa telah melakukan sesuatu untuk membela Allah, Rasul-Nya dan Al Qur’an, lalu hati kita menganggap remeh orang yang tak seperti dirinya. Atau bahkan menganggap mereka lemah dan tak berguna. Tak sadar bahwa perasaan seperti ini bisa membatalkan amalnya. Ibnul Mubaarok rahimahullah berkata : وَلاَ أَعْلَمُ فِي الْمُصَلِّيْنَ شَيْئًا شَرٌّ مِنَ الْعُجْبِ “Aku tidak mengetahui pada orang-orang yang sholat perkara yang lebih buruk daripada ujub” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sy’abul Iman no 8260). Syaikh Ibnu Al Utsaimin mengatakan bahwa ujub itu dapat membatalkan amal. Beliau mengatakan, “kelompok yang kedua, yaitu orang-orang yang tidak memiliki tahqiq (kesungguhan) dalam pokok iman kepada takdir. Mereka melakukan ibadah sekadar yang mereka lakukan. Namun mereka kita sungguh-sungguh dalam ber-isti’anah kepada Allah dan tidak bersabar dalam menjalankan hukum-hukum Allah yang kauni maupun s...
Suatu hari kecantikan dan keburukan bertemu di tepi laut. Dan mereka saling berkata, “Marilah berenang ke laut.” Lalu mereka menanggalkan pakaian dan berenang. Setelah beberapa saat, keburukan kembali ke tepi dan mengenakan pakaian kecantikan kemudian pergi. Dan saat kecantikan keluar dari laut, ia tidak menemukan pakaiannya. Karena malu untuk telanjang, akhirnya ia mengenakan pakaian keburukan. Dan hingga akhir hari ini kita tidak mampu mengenali mereka satu per satu. Hanya ada beberapa orang yang mengenali kecantikan meskipun ia menggunakan pakaian keburukan. Dan ada juga yang dapat mengenali keburukan, karena pakaian yang ia kenakan tak mampu menyembunyikan wajah aslinya. Kahlil Gibran
Komentar
Posting Komentar