Siapa yang tak kenal ka'ab bin malik, sahabat nabi yang mengatakan :'Aku tidak pernah tertinggal dalam menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perang yang beliau pimpin sama sekali kecuali perang Tabuk. Yang mana ketidak ikut sertaannya itulah membuat ia di isolir oleh nabi dan sahabat lainnya bahkan sampai istrinya. Sehingga ia merasa bumi yg begitu luas ini serasa sempit dan ia menyadari tidak ada jalan lain melainkan bertaubat dan kembali kepada Allah. Sampai tiba lah hari itu hari yang sangat di nantikan dan di rindukan, yang mana beliau bercerita : aku melakukan shalat subuh pada pagi hari setelah melewati malam yang ke-50 di bagian belakang rumahku. Ketika aku sedang duduk dalam keadaan seperti yang Allah sebutkan tentang kami, yaitu diriku diliputi kesedihan yang sangat serta bumi yang luas ini terasa sempit bagiku. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak dengan suara keras yang menembus cakrawala, Wahai Kaab bin Malik, bergembiralah! Lalu aku suju...
Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja. Siapa tahu suatu saat ia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja. Siapa tahu suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kau cintai. . Ya, ucapan Imam Ali bin Abi Thalib itu memang penuh makna. Makna bahwa hati manusia selalu berputar. Kadang ini lalu itu, kadang seperti ini lalu seperti itu. Berputar sesuai kehendah Pemilik Hati. Makna bahwa mencintai haruslah hati-hati. karena suatu saat bisa jadi benci. Dan benci yang suatu saat mungkin berbalik menjadi cinta yang dinanti. . Karena cinta dan benci hanya memiliki perbedaan yang sangat tipis. Bahkan kita tak pernah kuasa menahan cinta dan sulit sekali menghindari rasa benci. Kita hanya dapat mengendalikannya sebelum rasa itu mendalam dan mengakar. . Yaitu menjaga hati ini. Bila terlanjur mencintai, jagalah hati. Jangan sampai rasa itu menjamur disaat belum ada ikatan yang pasti. . Lebih baik menjaga hati selama belum ada ikatan halal ...
Suatu hari kecantikan dan keburukan bertemu di tepi laut. Dan mereka saling berkata, “Marilah berenang ke laut.” Lalu mereka menanggalkan pakaian dan berenang. Setelah beberapa saat, keburukan kembali ke tepi dan mengenakan pakaian kecantikan kemudian pergi. Dan saat kecantikan keluar dari laut, ia tidak menemukan pakaiannya. Karena malu untuk telanjang, akhirnya ia mengenakan pakaian keburukan. Dan hingga akhir hari ini kita tidak mampu mengenali mereka satu per satu. Hanya ada beberapa orang yang mengenali kecantikan meskipun ia menggunakan pakaian keburukan. Dan ada juga yang dapat mengenali keburukan, karena pakaian yang ia kenakan tak mampu menyembunyikan wajah aslinya. Kahlil Gibran
Komentar
Posting Komentar